Membacalah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi

DR. WIJAYA KUSUMAH, M.PD

Terbaru11 Dilihat

Membacalah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi: Kisah Omjay Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Ada satu kebiasaan sederhana yang terus saya jaga sampai hari ini: membaca setiap hari. Tidak harus membaca buku tebal sampai berjam-jam. Tidak harus menyelesaikan puluhan halaman dalam sekali duduk. Kadang cukup membaca beberapa halaman buku, sebuah artikel, berita pendidikan, tulisan seorang sahabat, atau bahkan catatan kecil yang muncul di layar ponsel. Bagi saya, membaca bukan sekadar aktivitas untuk menambah pengetahuan. Membaca adalah cara untuk menjaga pikiran tetap hidup.

Saya, Omjay, guru blogger Indonesia, semakin menyadari bahwa kemampuan seseorang untuk menulis sangat dipengaruhi oleh seberapa banyak ia membaca. Orang yang rajin membaca akan memiliki lebih banyak bahan untuk diceritakan. Ia mempunyai lebih banyak sudut pandang untuk dipertimbangkan. Ia menemukan kosakata baru, gagasan baru, pengalaman baru, bahkan pertanyaan-pertanyaan baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Karena itu, selain kalimat “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi”, saya juga ingin mengajak siapa pun yang sedang belajar menulis untuk memulai dari kebiasaan yang sangat sederhana: “Membacalah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”

Saya percaya dua kebiasaan ini tidak dapat dipisahkan.

Membaca memberi kita bahan bakar. Menulis membuat bahan bakar itu berubah menjadi energi yang bermanfaat.

Membaca Mengubah Cara Kita Melihat Dunia

Ketika masih menjadi pelajar, mungkin kita menganggap membaca sebagai kewajiban. Ada buku pelajaran yang harus dibaca karena besok ada ulangan. Ada tugas yang harus diselesaikan karena guru memberikan pekerjaan rumah. Ada materi yang harus dipahami karena akan keluar dalam ujian.

Namun, semakin bertambah usia, saya justru melihat membaca dari perspektif yang berbeda.

Membaca adalah perjalanan.

Setiap kali membuka sebuah buku, kita sebenarnya sedang memasuki dunia yang berbeda. Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain tanpa harus mengalami semua peristiwa itu sendiri. Kita bisa mengetahui kegagalan seseorang tanpa harus mengulangi kegagalan yang sama. Kita bisa memahami keberhasilan seseorang sekaligus mengetahui perjuangan panjang yang berada di balik keberhasilan tersebut.

Itulah salah satu keajaiban membaca.

Kita bisa duduk di tempat yang sama, tetapi pikiran kita dapat berjalan sangat jauh.

Sebagai seorang guru, saya merasakan sendiri manfaatnya. Ketika membaca tulisan guru lain, saya menemukan inspirasi untuk pembelajaran. Ketika membaca buku pendidikan, saya memperoleh perspektif baru tentang bagaimana mendampingi peserta didik. Ketika membaca perkembangan teknologi, saya mendapatkan ide untuk membawa teknologi tersebut ke dalam kelas.

Bahkan ketika membaca tulisan yang tidak berkaitan langsung dengan pendidikan, sering kali saya menemukan sesuatu yang dapat digunakan untuk memperkaya pembelajaran.

Membaca membuat kita tidak mudah merasa paling tahu.

Semakin banyak membaca, semakin kita sadar bahwa pengetahuan kita ternyata masih sangat sedikit.

Dari Membaca Lahir Gagasan

Ada masa ketika seseorang berkata, “Saya ingin menulis, tetapi tidak tahu mau menulis apa.”

Saya sering menjawabnya dengan sederhana.

Bacalah.

Jangan buru-buru memaksa diri menulis jika kepala sedang kosong. Ambillah sebuah buku. Baca artikel. Buka kembali catatan lama. Dengarkan pengalaman orang lain. Perhatikan lingkungan sekitar. Amati apa yang sedang terjadi di sekolah.

Dari membaca, biasanya muncul pertanyaan.

Dari pertanyaan, lahirlah gagasan.

Dari gagasan, lahirlah tulisan.

Itulah proses yang saya alami selama bertahun-tahun menjadi guru dan blogger.

Kadang sebuah tulisan lahir bukan karena saya sudah memiliki gagasan besar. Justru gagasan itu muncul setelah membaca sesuatu.

Saya membaca sebuah berita pendidikan, lalu muncul pertanyaan. Saya membaca pengalaman seorang guru, lalu teringat pengalaman saya sendiri. Saya membaca buku, kemudian menemukan kalimat yang membuat saya merenung. Dari perenungan itu lahirlah sebuah tulisan.

Jadi, jangan menunggu inspirasi datang.

Jemput inspirasi dengan membaca.

Membaca Tidak Harus Mahal

Di zaman sekarang, akses terhadap bacaan semakin luas. Kita tidak selalu harus membeli buku baru untuk mendapatkan pengetahuan.

Perpustakaan sekolah dapat menjadi tempat yang sangat berharga. Perpustakaan daerah juga menyediakan banyak sumber belajar. Selain itu, internet membuka kesempatan bagi kita untuk membaca berbagai artikel, jurnal, berita, dan sumber pengetahuan lainnya.

Tetapi ada satu hal yang harus kita ingat.

Tidak semua informasi di internet layak dipercaya.

Karena itu, membaca juga harus disertai kemampuan berpikir kritis. Jangan langsung percaya hanya karena sebuah tulisan terlihat menarik. Periksa sumbernya. Bandingkan dengan sumber lain. Perhatikan siapa yang menulisnya dan apa tujuan tulisannya.

Dengan begitu, membaca bukan hanya membuat kita banyak tahu, tetapi juga membuat kita semakin bijaksana dalam menerima informasi.

Omjay dan Kebiasaan Membaca

Dalam perjalanan saya sebagai guru blogger Indonesia, membaca menjadi bagian penting dari proses belajar.

Saya menulis bukan karena saya sudah mengetahui semuanya.

Saya menulis karena saya terus belajar.

Saya membaca tulisan orang lain. Saya membaca komentar pembaca. Saya membaca buku. Saya membaca berita. Saya membaca perkembangan dunia pendidikan dan teknologi. Dari sanalah saya mendapatkan banyak bahan untuk menulis.

Ketika seseorang membaca tulisan kita kemudian memberikan komentar, komentar tersebut pun dapat menjadi bahan pembelajaran.

Ada kritik yang membuat kita memperbaiki tulisan.

Ada masukan yang membuat kita melihat persoalan dari sudut pandang berbeda.

Ada pula apresiasi sederhana yang membuat kita semakin bersemangat.

Semua itu merupakan bagian dari perjalanan seorang penulis.

Maka saya tidak pernah menganggap membaca dan menulis sebagai kegiatan yang terpisah. Keduanya berjalan beriringan.

Membaca setiap hari. Menulis setiap hari. Berbagi setiap hari.

Jika dilakukan secara konsisten, kita akan terkejut melihat perubahan yang terjadi dalam diri kita.

Apa yang Terjadi Jika Kita Membaca Setiap Hari?

Pertama, kosakata kita bertambah.

Kita menemukan kata-kata baru yang sebelumnya jarang digunakan. Kita belajar bagaimana sebuah gagasan disampaikan dengan kalimat yang menarik. Lama-kelamaan, kemampuan berbahasa kita berkembang.

Kedua, wawasan kita semakin luas.

Hari ini kita membaca tentang pendidikan. Besok tentang teknologi. Lusa tentang budaya. Hari berikutnya tentang sejarah. Tanpa terasa, berbagai pengetahuan tersebut tersimpan dalam pikiran kita dan dapat saling terhubung.

Ketiga, kemampuan berpikir kritis meningkat.

Membaca banyak sumber membuat kita belajar membandingkan informasi. Kita tidak mudah menerima sebuah pendapat begitu saja.

Keempat, ide menulis semakin banyak.

Ini yang saya rasakan sendiri.

Semakin banyak membaca, semakin banyak hal yang ingin dituliskan. Bukan karena kita kehabisan cerita, tetapi karena kita mulai melihat banyak hal dari berbagai perspektif.

Kelima, kita menjadi lebih percaya diri.

Ketika memiliki pengetahuan yang cukup, kita lebih berani menyampaikan pendapat. Tentu tetap dengan kerendahan hati dan kesediaan untuk menerima koreksi.

Membaca Adalah Investasi Jangka Panjang

Saya sering mengatakan kepada guru dan peserta didik bahwa jangan melihat membaca sebagai kegiatan yang hasilnya harus langsung terlihat.

Membaca adalah investasi.

Hari ini mungkin kita membaca lima halaman dan merasa tidak mendapatkan apa-apa. Besok kita membaca sepuluh halaman dan masih merasa biasa saja. Namun, bertahun-tahun kemudian, berbagai bacaan itu ternyata telah membentuk cara berpikir kita.

Pengetahuan yang kita baca mungkin tidak langsung digunakan hari ini.

Tetapi suatu hari nanti, ketika menghadapi sebuah persoalan, tiba-tiba kita teringat sesuatu yang pernah kita baca.

Di situlah kita menyadari bahwa tidak ada bacaan yang benar-benar sia-sia.

Sama seperti menanam pohon.

Kita menanam hari ini, tetapi tidak langsung menikmati buahnya.

Kita harus merawatnya, menyiramnya, dan menunggu dengan sabar.

Begitu pula membaca.

Baca sedikit demi sedikit, tetapi terus-menerus.

Ajak Anak-Anak Membaca

Sebagai guru, saya juga memiliki harapan besar agar budaya membaca kembali menjadi bagian dari kehidupan peserta didik.

Jangan hanya meminta anak membaca ketika ada tugas.

Ajak mereka membaca karena mereka ingin tahu.

Guru bisa memberikan waktu beberapa menit sebelum pembelajaran dimulai untuk membaca. Anak-anak dapat memilih buku sesuai minat mereka. Setelah membaca, mereka bisa menceritakan kembali apa yang mereka dapatkan.

Tidak perlu selalu berupa ujian.

Bisa melalui percakapan.

Bisa melalui tulisan pendek.

Bisa melalui gambar.

Bisa melalui presentasi.

Bahkan bisa melalui sebuah pertanyaan sederhana:

“Apa hal baru yang kamu temukan hari ini?”

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membuka pintu menuju kebiasaan belajar sepanjang hayat.

Membaca, Menulis, dan Berbagi

Saya belajar satu hal penting selama menjalani perjalanan sebagai guru blogger.

Pengetahuan akan semakin bermakna ketika dibagikan.

Karena itu, setelah membaca, jangan berhenti sampai di sana. Cobalah menuliskan kembali apa yang kita pahami dengan bahasa sendiri.

Tidak perlu menyalin.

Tidak perlu menggunakan bahasa yang rumit.

Tuliskan pengalaman dan pemahaman kita.

Jika kita seorang guru, tuliskan pengalaman mengajar.

Jika kita seorang siswa, tuliskan pengalaman belajar.

Jika kita orang tua, tuliskan pengalaman mendampingi anak.

Jika kita menemukan sesuatu yang menarik, ceritakan kepada orang lain.

Dengan cara seperti itu, membaca menghasilkan tulisan, tulisan menghasilkan percakapan, dan percakapan menghasilkan pengetahuan baru.

Inilah ekosistem literasi yang saya impikan.

Mulailah Hari Ini

Tidak perlu menunggu memiliki banyak waktu.

Mulailah dengan sepuluh menit.

Sepuluh menit membaca setiap hari jauh lebih baik daripada berjam-jam membaca tetapi hanya dilakukan sekali dalam sebulan.

Pilih bacaan yang kita sukai.

Letakkan buku di tempat yang mudah dijangkau.

Kurangi waktu menggulir layar tanpa tujuan.

Gantilah sebagian waktu tersebut dengan membaca sesuatu yang memberikan manfaat.

Kemudian tuliskan satu atau dua paragraf tentang apa yang kita baca.

Lakukan terus.

Hari demi hari.

Minggu demi minggu.

Bulan demi bulan.

Suatu saat nanti kita akan melihat perubahan yang luar biasa.

Pikiran menjadi lebih kaya.

Bahasa menjadi lebih hidup.

Tulisan menjadi lebih bernyawa.

Dan yang paling penting, kita menjadi manusia yang terus belajar.

Itulah alasan saya ingin mengajak siapa pun untuk membuktikan sendiri sebuah kebiasaan sederhana:

Membacalah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Jangan hanya percaya kepada kata-kata saya.

Cobalah sendiri.

Baca satu halaman hari ini.

Besok baca satu halaman lagi.

Kemudian tuliskan apa yang Anda pikirkan.

Karena membaca bukan sekadar melihat huruf demi huruf. Membaca adalah cara kita berdialog dengan dunia.

Dan ketika dialog itu kita tuangkan kembali dalam bentuk tulisan, mungkin suatu hari nanti tulisan sederhana kita mampu menginspirasi orang lain.

Saya, Omjay, akan terus membaca.

Saya akan terus menulis.

Saya akan terus berbagi.

Sebab saya percaya, selama kita masih mau membaca dan belajar, perjalanan kita tidak pernah benar-benar berhenti.

Membacalah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Salam literasi.

Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Tinggalkan Balasan