Ada Apa di Bandara Soekarno Hatta?

DR. WIJAYA KUSUMAH, M.PD

Terbaru7 Dilihat

Ada Apa di Bandara Soekarno-Hatta? Kisah Omjay Menjemput Pengalaman Baru Menuju Bali

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay Guru Blogger Indonesia)

Jumat, 16 Oktober 2026, menjadi hari yang istimewa bagi saya. Siang ini, saya sudah sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Ada perjalanan yang akan saya tempuh, ada pengalaman baru yang menanti, dan tentu saja ada cerita yang ingin saya bagikan kepada sahabat pembaca.

Perjalanan kali ini bukan sekadar perjalanan biasa. Saya akan berangkat ke Bali untuk mengikuti kegiatan ICANN87, sebuah pertemuan internasional yang mempertemukan banyak pihak untuk membahas berbagai hal penting tentang tata kelola internet.

Namun, sebelum pesawat membawa saya menuju Pulau Dewata, ada beberapa hal sederhana yang saya lakukan di bandara. Saya menunaikan salat Jumat dan menikmati makan siang dengan nasi bungkus yang sudah saya beli sebelumnya di Warung Nasi Ibu Endang.

Bagi sebagian orang, dua kegiatan itu mungkin terlihat biasa saja. Akan tetapi, bagi saya, justru dari hal-hal sederhana seperti inilah kisah perjalanan sering kali dimulai.

Kembali ke Bandara Setelah Perjalanan yang Berkesan

Terakhir kali saya mengunjungi Bandara Soekarno-Hatta, saya hendak mengikuti perjalanan misi budaya ke Ankara, Turki, dalam rangka kegiatan Hari Anak Internasional.

Perjalanan ke Turki tersebut meninggalkan kenangan tersendiri. Saya berkesempatan mengikuti kegiatan yang mempertemukan budaya, persahabatan, dan semangat anak-anak dari berbagai latar belakang. Perjalanan itu mengingatkan saya bahwa dunia begitu luas dan selalu ada kesempatan untuk belajar dari orang lain.

Kini, saya kembali menginjakkan kaki di bandara yang sama. Tujuannya berbeda, tetapi semangatnya tetap sama: belajar, berbagi pengalaman, dan memperluas wawasan.

Jika dahulu perjalanan membawa saya ke Ankara untuk mengikuti misi budaya, kali ini perjalanan membawa saya ke Bali untuk menghadiri ICANN87.

Saya merasa bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk terus belajar. Sebagai seorang guru, saya percaya bahwa proses belajar tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan ruang kelas. Justru ketika kita bertemu orang baru, mengunjungi tempat baru, dan mendengarkan pemikiran yang berbeda, pengetahuan kita semakin berkembang.

Salat Jumat di Bandara, Menenangkan Hati Sebelum Terbang

Hari ini adalah hari Jumat. Karena itu, sebelum melanjutkan perjalanan, saya menyempatkan diri untuk menunaikan salat Jumat di bandara.

Di tengah kesibukan para penumpang yang datang dan pergi, saya berusaha meluangkan waktu untuk beribadah. Ada orang yang sedang mengejar jadwal penerbangan, ada keluarga yang bersiap berlibur, ada pula para pekerja yang melakukan perjalanan untuk urusan pekerjaan.

Bandara memang menjadi tempat pertemuan banyak perjalanan dan tujuan. Namun, di tengah semua kesibukan itu, kita tetap perlu menyediakan waktu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Bagi saya, perjalanan yang baik bukan hanya tentang sampai di tempat tujuan dengan selamat. Perjalanan juga tentang menjaga hati, meluruskan niat, dan mengingat bahwa setiap kesempatan merupakan anugerah yang patut disyukuri.

Salat Jumat menjadi pengingat bahwa sesibuk apa pun kegiatan kita, jangan sampai melupakan kewajiban kepada Allah Swt.

Saya berdoa agar perjalanan menuju Bali berlangsung lancar, kegiatan ICANN87 berjalan dengan baik, dan saya bisa membawa pulang pengalaman yang bermanfaat untuk dibagikan kepada keluarga, rekan guru, dan sahabat pembaca.

Makan Siang dengan Nasi Bungkus Warung Nasi Ibu Endang

Setelah menunaikan salat Jumat, tibalah waktunya makan siang.

Saya tidak perlu repot mencari makanan di bandara karena sebelumnya sudah membeli nasi bungkus di Warung Nasi Ibu Endang. Bekal sederhana itu menemani saya sebelum melanjutkan perjalanan menuju ruang keberangkatan.

Bagi saya, membawa bekal dari tempat yang sudah dikenal merupakan pilihan praktis. Kita bisa menyiapkan kebutuhan perjalanan dengan lebih terencana, termasuk urusan makan.

Nasi bungkus itu mengingatkan saya bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari makanan mahal atau hidangan mewah. Terkadang, seporsi nasi dengan lauk sederhana sudah cukup membuat kita merasa senang dan bersyukur.

Ada pelajaran kecil dari kebiasaan ini: perjalanan jauh membutuhkan persiapan. Kita perlu memikirkan waktu keberangkatan, transportasi, tiket, barang bawaan, makanan, dan kondisi tubuh.

Jangan sampai karena terlalu bersemangat mengejar tujuan, kita justru melupakan kebutuhan dasar diri sendiri.

Sebagai seseorang yang ingin terus aktif berkegiatan, saya berusaha lebih memperhatikan kesehatan dan mengatur kebutuhan selama perjalanan. Tubuh perlu dijaga agar tetap bugar, sehingga kegiatan yang sudah direncanakan dapat diikuti dengan baik.

Makan siang dengan nasi bungkus mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi saya, itulah bagian kecil dari cerita perjalanan hari ini.

Menuju Bali untuk Mengikuti ICANN87

Tujuan perjalanan saya kali ini adalah Bali, tepatnya untuk mengikuti kegiatan ICANN87 Annual General Meeting yang berlangsung pada 17–22 Oktober 2026.

ICANN merupakan singkatan dari Internet Corporation for Assigned Names and Numbers. Organisasi ini berperan dalam koordinasi sistem pengenal unik internet, termasuk nama domain dan sistem alamat yang membantu internet bekerja secara terkoordinasi.

Mengikuti kegiatan ICANN87 menjadi kesempatan berharga bagi saya untuk belajar lebih jauh tentang tata kelola internet. Selama ini, kita menggunakan internet untuk mengajar, menulis, berkomunikasi, mencari informasi, dan menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.

Namun, tidak semua pengguna internet memahami bagaimana sistem yang menopang internet dikelola dan bagaimana berbagai pihak bekerja sama agar internet dapat terus berfungsi.

Sebagai guru Informatika, saya merasa penting untuk memahami persoalan ini. Pengetahuan tentang internet tidak cukup berhenti pada kemampuan menggunakan perangkat atau membuka situs web. Kita juga perlu mengenal tata kelola, keamanan, tanggung jawab, serta peran masyarakat dalam membangun ruang digital yang lebih baik.

Saya berharap kegiatan ICANN87 dapat memberikan wawasan baru yang bisa saya bagikan kembali kepada para guru dan peserta didik di Indonesia.

Saya ingin semakin banyak guru memahami bahwa dunia digital bukan hanya tempat untuk mencari hiburan. Internet juga merupakan ruang belajar, ruang kolaborasi, dan ruang untuk berkontribusi bagi masyarakat.

Bandara Mengajarkan Kita tentang Kesabaran

Saat berada di bandara, kita belajar tentang banyak hal. Kita belajar membaca jadwal, memperhatikan pengumuman, mengikuti prosedur, dan menghargai waktu.

Kita juga belajar bersabar. Tidak semua hal berjalan sesuai dengan keinginan kita. Kadang-kadang kita harus menunggu, menyesuaikan rencana, atau mencari informasi tambahan.

Bagi saya, bandara seperti ruang belajar yang besar. Setiap orang datang dengan tujuan masing-masing. Ada yang ingin bertemu keluarga, memulai pekerjaan baru, berlibur, menuntut ilmu, atau menghadiri kegiatan penting.

Kita mungkin tidak mengenal orang-orang yang duduk di sebelah kita. Kita tidak mengetahui cerita hidup mereka. Namun, setiap orang membawa harapan dan doa dalam perjalanannya.

Karena itu, saya selalu berusaha menikmati perjalanan dengan tetap menjaga sikap, menghargai orang lain, dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.

Perjalanan juga mengajarkan saya untuk menghargai hal-hal kecil. Bisa berangkat dengan persiapan yang cukup, mendapatkan kesempatan belajar, menikmati makan siang, dan menunaikan salat Jumat di tengah perjalanan merupakan nikmat yang patut disyukuri.

Menulis agar Pengalaman Tidak Hilang Begitu Saja

Sebagai Omjay, guru blogger Indonesia, saya terbiasa mengabadikan pengalaman melalui tulisan.

Saya percaya bahwa pengalaman yang hanya disimpan dalam ingatan suatu saat bisa terlupakan. Namun, ketika pengalaman itu dituliskan, kita dapat membacanya kembali dan mengambil pelajaran darinya.

Itulah sebabnya saya ingin menulis kisah sederhana dari Bandara Soekarno-Hatta ini.

Mungkin tidak ada peristiwa luar biasa yang terjadi. Saya hanya tiba di bandara, menunaikan salat Jumat, makan nasi bungkus dari Warung Nasi Ibu Endang, lalu bersiap menuju Bali.

Akan tetapi, bukankah kehidupan memang tersusun dari banyak peristiwa sederhana?

Dari perjalanan ke Ankara, Turki, saya belajar tentang budaya dan persahabatan. Dari perjalanan menuju Bali kali ini, saya berharap mendapatkan pengetahuan baru tentang tata kelola internet dan perkembangan dunia digital.

Kedua perjalanan itu memiliki tujuan berbeda, tetapi sama-sama membuka kesempatan untuk belajar.

Saya ingin terus menulis, bukan sekadar agar orang lain mengetahui ke mana saya pergi, melainkan agar setiap perjalanan memiliki makna dan dapat menjadi inspirasi bagi pembaca.

Semoga Perjalanan Ini Membawa Manfaat

Kini, saya bersiap melanjutkan perjalanan menuju Bali. Saya berharap semua proses keberangkatan berjalan lancar dan kegiatan ICANN87 memberikan banyak manfaat.

Saya juga berharap dapat membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada rekan-rekan guru, komunitas pendidikan, dan masyarakat luas. Sebab, ilmu akan lebih bermakna ketika dibagikan dan digunakan untuk kebaikan.

Ada satu hal yang ingin saya pegang dalam perjalanan ini: jangan pernah berhenti belajar hanya karena merasa sudah cukup berpengalaman.

Selama masih diberi kesempatan, kita perlu terus membuka pikiran, memperluas pergaulan, dan belajar memahami perubahan zaman.

Hari ini saya kembali berada di Bandara Soekarno-Hatta. Dari tempat ini, saya akan melanjutkan perjalanan menuju Bali. Sebuah perjalanan baru segera dimulai, membawa harapan, doa, dan semangat untuk terus belajar.

Semoga perjalanan ini diberi kelancaran dan keselamatan. Semoga ilmu yang diperoleh menjadi berkah, serta dapat dibagikan kepada sebanyak mungkin orang.

Salam Blogger Persahabatan.

Menulislah dengan hati, berbagi pengalaman dengan tulus, dan teruslah belajar sepanjang hayat.

Omjay Guru Blogger Indonesia

Tinggalkan Balasan