Butir-butir Kenangan Bersama Emak, Wanita Terhebatku

Terbaru845 Dilihat

 

 

 

Episode (4); Bedak viva nomor 5

Setelah Nora sembuh, dia mempunyai kebiasaan baru, suka menyanyi, menari, dan berani tampil didepan umum. Seingatku, dia pernah mengikuti festival putri Danau Toba, meski tidak meraih juara, aku salut padanya. Sebab, diantara anak perempuan emak (Disebut boru dalam Bahasa Batak), Nora yang fashionable. Kadang-kadang aku mencoba memakai giwang besar milik dia, namun setelah memandang kecermin, kubuka kembali giwang tersebut. Ada rasa tidak percaya diri mengenakan asesori seperti itu. Bahkan yang uniknya, ketika emak membelikan anting-anting (kerabu) mungil untukku, baru beberapa hari dipakai, kulit disekitar telinga melepuh. Akhirnya, dengan perasaan lega, anting-anting itu kulepas.

Terlepas dari apakah gaya berpakaian dengan segala asesorisnya juga merupakan penerapan dari hukum Mendel (Genetika), aku tak tahu. Yang pasti, kedua putriku juga tidak ada yang menyukai asesoris tersebut. Ketika dunia maya diramaikan dengan berbagai merek skin care, aku malah kurang familiar . Maka untuk urusan wajah, cukuplah apa adanya hanya dengan menyapukan krim tipis-tipis.

Ketika putra sulungku menikah, kami meminta jasa salon untuk merias anggota keluarga. Setelah selesai dirias, putraku melirik berulangkali, karena risih, kutanya apa yang membuat dia mesem-mesem. Kejujuran putraku yang mengatakan bahwa aku mirip penari Srimulat, membuatku bergegas menghapus sapuan make up, yang menurut perias sudah super minimalis.

Jika ingat ini, ingatanku melayang pada emak, perempuan desa yang tak pernah disibukkan urusan wajah, cukuplah bedak viva nomor 5 ketika hendak bepergian.

Salah satu hal yang paling tabu buat ayah emak adalah berbohong. Lebih baik berkata jujur meski harus menerima wejangan panjang lebar dari ayah. Bahkan ayah memberlakukan hukuman Ketika ketahuan berbohong.

Suatu saat, kakakku Rumondang mencuci piring di pancuran belakang rumah. Karena tidak hati-hati, kakinya terpeleset, dan beberapa piring pecah. Saking takutnya, pecahan piring tersebut disembunyikan disemak-semak. Kakakku tidak menyadari bahwa ayah sering menyisir lahan dibelakang rumah.

Begitu sampai rumah, kakak tidak memberitahu emak bahwa beberapa piring pecah. Tidak berapa lama, ayah juga tiba dirumah. Dengan gaya santai, ayah menelisik dan ingin mengetahui keberanian kakak untuk berkata jujur. Tanpa dinterogasi lebih lanjut, kakak mengaku telah memecahkan piring. Dan, ayah tidak marah, malah memberi apresiasi untuk kejujuran kakak.

Namun sebagai anak yang penuh dengan akal bulus, pernah juga aku “Bermain drama satu babak”. Dengan mengenakan selimut tebal kesekujur tubuh, aku meringkuk memeluk bantal. Ayah mencari-cari, karena hanya aku yang belum hadir di bedeng tempat kami bergelut dengan gulma setiap harinya. Lantas, ayah melihatku di kamar, beliau meraba keningku, tanpa berkata apa-apa, ayah keluar dari kamar. Akhirnya, aku menikmati tidur siang tanpa bekerja di ladang pada hari itu. Tapi, modus itu hanya kupakai satu kali saja, sebab aku takut, jika ayah tahu bahwa aku baik-baik saja, tidak sedang demam.

Kadangkala, muncul juga rasa cemburu dihatiku, jika melihat emak teramat perhatian pada anak-anak lelakinya. Adikku Harry, yang selalu diberi panggilan “Bapak Siappudan” (Panggilan sayang untuk anak lelaki bungsu), hampir tak pernah dimarahi emak. Bahkan ketika Harry pulang dari kolam dengan pakaian penuh lumpur, menenteng ikan-ikan kecil didalam baskom, aku meradang. Seenaknya saja dia mengotori pakaian, toh aku juga nanti yang kelabakan mencucinya. Kubanting baskom berisi ikan hasil tangkapannya, alhasil ikan-ikan tersebut berceceran. Harry diam saja, tidak melawan.

Emak mendekat, demi melihat kondisi Harry serta ikan tangkapannya, emak menangis memunguti ikan tersebut. “Ikan-ikan ini nggak berdosa, kenapa harus kau buang, kan sudah capek adikmu mencarinya di kolam”, sedu emak. Segera Harry membersihkan tubuh, dan emak menggoreng ikan tadi, tentu saja aku ikut menyantapnya.

Meski dalam diam hatiku protes dengan perlakuan emak, aku tidak berani membantah. Kini, setelah aku memiliki putra dan putri, aku baru memahami kenapa emak berbeda memperlakukan anak lelakinya, karena jujur, aku juga demikian.

Jika pembaca ingin tahu kenapa, aku tak bisa menjawab, kuyakin ini hanya masalah kodrat, bahwa perempuan lebih menyukai laki-laki dan sebaliknya (Hanya bercanda).

Setelah adikku Harry berusia 10 tahun, predikat anak bungsu lepas, karena emak melahirkan adikku Lan. Dua tahun berikutnya adikku Abdi lahir, dan predikat anak bungsu berpindah ke Abdi.

Ketika bercengkerama dengan seluruh anggota keluarga, ayah berucap, bahwa rumah beserta isinya adalah milik anak bungsu. Iseng ada juga kami yang bertanya, apakah kuali dan periuk yang sudah menghitam itu juga diwariskan ke Abdi?. Ayah kami menjawab, tentu saja, terserah dia  mau pakai atau enggak.

Namun kami tidak begitu perduli dengan wacana harta warisan, sebab ayah selalu menegaskan bahwa “Harta warisan paling berharga adalah ilmu”. Sesekali ayah memberi nasehat dengan menyelipkan peribahasa asing, misalnya “The science is gun” (ilmu adalah senjata), atau “ maak van de eettafel een onderhandelingstafel” (Jadikanlah meja makan sebagai meja perundingan. Itulah sebabnya, maka ayah dan emak berupaya semaksimal mungkin untuk menyekolahkan kami sampai ke jenjang tertinggi. Pun juga peribahasa Belanda tentang meja makan, maka kami selalu dibriefing usai makan malam.

Tentang makan malam, kami memiliki jadwal khusus petugas yang mempersiapkan makan malam. Jadwal tersebut terpampang didinding, tertulis dengan jelas siapa yang bertugas menyendok nasi dari periuk, menyediakan cuci tangan, serbet. Untuk yang bertugas menyendok nasi, maka ada bonus, sekaligus juga menjadi juru kunci menikmati nasi berkerak. Jika petugas lupa menyediakan serbet, maka ayah akan mengusapkan tangan kerambut sembari berkata “Kamulah yang buat rambut ayah semakin botak”. Tunggang-langganglah petugas mencari serbet, dan biasanya serbet bisa ditemukan sebelum ayah selesai mengusap tangan.

Jika ada insiden seperti itu, kami tidak berani berkomentar, sebab suatu saat bisa jadi salah seorang diantara kami juga mengalami. Tidak ada istilah saling menyalahkan. Biasanya, kakak tertualah yang dinasehati ayah, supaya mengawasi adik-adiknya, agar semua berjalan dengan lancar sesuai tugas masing-masing.

Ketika aku mengikuti mata kuliah manajemen, jauh dilubuk hatiku menaruh rasa hormat kepada ayah dan emak, yang telah berhasil mengaplikasikan ilmu manajemen dalam mendidik anak, tanpa harus duduk dibangku kuliah.

💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕Salam literasi dari bumi Kualuh, basimpul kuat babontuk elok.

Tinggalkan Balasan