Sila 5 Butir 1 Pancasila

Terbaru596 Dilihat

Nama    : Kayla Najmi Adrianda

NIM       : 21080

TINGKAT 1B

SILA KE-5 BUTIR 1

Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.

Indonesia merupakan negara dengan angka kependudukan yang tinggi, bahkan menduduki peringkat ke 4 dalam negara-negara penduduk terbanyak di dunia. Jumlah warga negara Indonesia per 2020 adalah sekitar 273 juta jiwa.  Dengan 273 juta jiwa tersebut, alangkah baiknya jika masyarakat menumbuhkan rasa saling sayang dan menghargai antar manusia, salah satunya dengan cara mengimplementasikan butir pertama dari sila ke-5 yaitu “Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.”

Penerapan sila 5 butir pertama pada kehidupan sehari-hari dapat dilakukan dengan:

  1. Menjadi manusia yang bermoral dan berkelakukan baik terhadap sesama manusia. Contohnya yaitu bersikap sopan dan selalu menghargai manusia.
  2. Berjiwa nasionalisme. Contohnya yaitu selalu berperan aktif dalam mempertahankan budaya bangsa dan menggunakan produk dalam negeri.
  3. Mencintai tanah air Indonesia. Contohnya yaitu dengan menjaga nama baik bangsa ini dan jika bisa membanggakan serta mengharumkan bangsa Indonesia.

Gotong royong adalah bentuk kerja-sama kelompok masyarakat untuk mencapai suatu hasil positif dari tujuan yang ingin dicapai secara mufakat dan musyawarah bersama. Gotong royong merupakan budaya yang telah tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia sebagai warisan budaya yang telah eksis secara turun-temurun.

Sebagai negara Pancasila, keberagaman bukanlah penghalang untuk bisa bekerjasama dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik.  Sebaliknya, jadikan keberagaman menjadi momentum untuk persatuan. Sesama masyarakat Indonesia bisa saling membantu satu sama lainnya tanpa memandang suku, agama, ras dan antar golongan.

Tentunya dibutuhkan saling kesepahaman antar individu, keluarga, bertetangga dan dalam masyarakat lingkup kecil demi keselarasan kehidupan. Kemajemukan bukan menjadi penghalang, namum sebagai pemerkaya jati diri bangsa.

Menghadapi gelombang perubahan kehidupan akibat gerusan arus pengaruh budaya asing perlu ada kekuatan (enerji sosial) yang dapat mengarahkan pada terbentuknya komitmen moral dengan memunculkan gerakan yang berusaha membebaskan diri dari kungkungan hegemoni budaya asing yang telah memporak porandakan modal sosial yang telah lama ada itu.

 

Tinggalkan Balasan