MENARUH HARAP PADA TANAMAN RIMPANG

Terbaru7 Dilihat

Jahe, Kunyit, Lengkuas, Temulawak dan kencur termasuk jenis rimpang atau
tanaman biofarmaka (empon-empon). Rimpang sangat populer di Indonesia sebagai bumbu dapur atau rempah dan bahan jamu tradisional untuk meningkatkan kesehatan.

Jawa tengah terutama Karanganyar, Wonogiri, Sukoharjo sering disebut sebagai sentra atau lumbung rimpang nasional. Karena memang tanahnya subur cocok untuk tanaman rimpang. Selain itu para petaninya berpengalaman dan industri jamu berkembang.

Daerah-daerah lain yang potential menghasilkan rimpang adalah Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Barat dan Sumatera Utara.

Produksi rimpang Nasional tahun 2020 tercatat sekitar 97 ton. Didominasi oleh jahe dan kunyit sebagai komoditas utama. Produksi ini nampaknya akan terus bertambah mengingat permintaan obat herbal diprediksi mencapai Rp23 triliun pada tahun 2025. Ini akan mendorong potensi budidaya yang lebih tinggi. Karena itu Direktorat Jenderal Hortikultura menetapkan target 7.404 ton di akhir 2025.

Rimpang memang kaya manfaat. Ambil contoh jahe.
Di Indonesia, terdapat tiga jenis jahe utama yang paling populer, yaitu jahe gajah (putih besar), jahe emprit (putih kecil), dan jahe merah. Perbedaan utama ketiganya terletak pada ukuran besar, warna kulit, tingkat kepedasan, serta aroma. Jahe merah paling pedas dan sering dijadikan bahan obat-obatan.

Secara nasional, jahe adalah rimpang dengan produksi terbesar. Penggunaannya pun beragam, selain untuk bumbu masak dan obat diolah juga sebagai campuran minuman seperti Susu Telur Madu Jahe (STMJ) yang dipercaya meningkatkan imunitas dan vitalita serta membantu mengurangi nyeri sendi, otot, dan nyeri haid. Kata bijakpun mengatakan:'”Di balik dinginnya malam, secangkir jahe adalah pelukan paling hangat”.

Tanaman rimpang meski memiliki prospek menjanjikan, namun, peluang ini tetap perlu dibaca secara realistis: kuat di permintaan, tetapi menuntut konsistensi kualitas dan tata kelola yang lebih baik. Ruang peningkatan perbaikan masih terbuka karena budidaya masih banyak dilakukan secara tradisional, standar kualitas belum seragam antar daerah, Skala usaha kecil dengan petani individu, bukan korporasi.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan