Ada peribahasa mengatakan: “Singapun melindungi diri dari lalat”. Sederhana tapi maknanya dalam. Singa si raja hutan, sering dilambangkan sebagai kekuatan, keberanian, dan dominasi. Tapi ia tidak mengabaikan gangguan mahluk kecil seperti lalat.
Maknanya bisa berlapis. Jangan pernah meremehkan hal kecil, dampaknya bisa besar.Semisal kebiasaan buruk ringan, komentar negatif, atau kesalahan kecil dalam pekerjaan. Jika dibiarkan, hal-hal kecil ini bisa menumpuk dan menimbulkan dampak besar, seperti lalat yang mungkin tampak sepele tetapi tetap mengganggu bahkan seekor singa pun merasa terganggu.
Ini suatu bentuk kewaspadaan, tanda kebijaksanaan, bukan kelemahan. Kutipan ini mengingatkan bahwa keruntuhan besar sering berawal dari kelalaian kecil. Ia
membalik pandangan bahwa orang kuat tidak perlu memikirkan hal-hal kecil. Justru orang yang benar-benar kuat adalah mereka yang teliti dan menjaga diri dari potensi gangguan sekecil apa pun.
Ia tetap disiplin terhadap hal sepele apapun yang dampaknya menentukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam konteks gizi: kebiasaan kecil seperti melewatkan sarapan, kurang minum air, atau konsumsi gula berlebih mungkin tampak remeh, tetapi dalam jangka panjang berdampak nyata.
Keberhasilan, pengalaman, atau posisi yang diraih seseorang, sering membuatnya lengah. Namun keruntuhan besar sering berawal dari kelalaian kecil.
Menjadi “singa” dalam hidup bukan hanya tentang kekuatan besar, tetapi juga tentang kemampuan menjaga diri dari hal-hal kecil yang berpotensi mengganggu. Karena sering kali, bukan ancaman besar yang menjatuhkan, melainkan akumulasi dari hal-hal kecil yang diabaikan. Terkandung jatuh oleh kerikil, bukan batu besar.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)


