Ketika membaca unggahan di WA group yang berbunyi: “Apa pun yang terucap dari mulut kita, itulah yang menentukan arah langkah kita.” terbetik keinginan untuk mendalami dan merenungkan kutipan tersebut.
Sejujurnya kutipan ini mengandung pesan reflektif yang sangat dalam. Sepintas terlihat kalimat ini sederhana. Namun sesungguhnya dalam kesederhanaan itu tersimpan kekayaan makna yang melimpah. Ia menyentuh inti jalinan relasi antara kata, pikiran, dan tindakan.
Apa yang kita ucapkan bukan sekadar bunyi yang hilang dirna ditelan udara. Ia kompas yang mengarahkan perjalanan hidup. Kata itu ibarat cermin isi hati, sekaligus pembentuk realitas batin. Ucapan lahir dari pikiran dan keyakinan. Ketika seseorang terbiasa berkata, “Saya tidak mampu,” maka secara tidak sadar ia sedang membangun batas bagi dirinya sendiri.
Demikian pula sebaliknya, jika ia sering mengatakan dengan yakin, “Saya akan belajar dan mencoba,” ia sedang membuka berbagai kemungkinan dan peluang.
Kata sebagai komitmen diri menunjukkan setiap ucapan adalah janji—minimal kepada diri sendiri. Kata-kata yang kita lontarkan sejatinya membangun identitas. Seseorang yang sering berkata tentang integritas, kerja keras, dan tanggung jawab, akan terdorong untuk menyelaraskan tindakannya dengan ucapannya. Ada dorongan batin untuk konsisten.
Kata-kata yang meluncur dari mulut menciptakan arah kemana tujuan ucapan itu.
Ucapan positif menumbuhkan harapan, keberanian, dan optimisme. Ucapan negatif memupuk keraguan, ketakutan, dan apatisme. Seiring berjalannya waktu, pola bahasa membentuk pola pikir, dan pola pikir membentuk pola tindakan. Inilah sebabnya banyak pendekatan pengembangan diri menekankan pentingnya afirmasi dan komunikasi yang sehat.
Kutipan ini mengajak kita berhati-hati sekaligus bijaksana dalam berbicara. Bukan sekadar menjaga sopan santun, tetapi menyadari bahwa setiap ucapan adalah benih. Benih itu akan tumbuh—entah menjadi pohon harapan atau semak keraguan bahkan mendatangkan badai dalam kehidupan. Ibarat pepatah mengatakan:Mulutmu adalah harimaumu”. Pepatah lain menasihatkan : Siapa menabur angin, menuai badai”.
Karena itu, sebelum berbicara, mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri:
Apakah kata-kata yang diucapkan ini akan membawa saya dan orang lain melangkah maju, atau justru mundur dan terkubur?
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)


