RASA TIDAK SUKA BUKAN BERARTI MEREMEHKAN

Terbaru18 Dilihat

Ketika melihat perilaku seseorang yang tidak berkenan di hati, muncul rasa tidak suka. Ini perasaan biasa saja yang tidak menyukai sifat atau karakter tertentu, tidak disertai dengan keinginan untuk menghancurkan.

Rasa tidak suka ini muncul dalam respon minimalis seperti jawaban singkat– lya atau tidak suara bernada datar saat berbicara. Bisa menjaga jarak menghindari kontak fisik maupun sosial. Terlihat lewat bahasa tubuh dengan menghindari kontak mata, memalingkan muka, tubuh tidak menghadap lawan bicara. Bahkan kurang antusias seperti tidak peduli atau tidak memberikan pujian atau dukungan.

Berbeda dengan benci. Ini tidak suka yang lebih bersifat personal dan pasif. Kebencian cenderung aktif, destruktif, dan ingin menjatuhkan. Terkait hal ini ada kata dalam bahasa Inggris ” to despise” yang berarti memandang rendah, meremehkan, atau membenci dengan rasa hina. Ini bukan hanya sekedar tidak suka tetapi lebih dari itu, ia mengandung unsur penolakan yang kuat disertai penilaian negatif terhadap nilai atau martabat seseorang atau sesuatu.

Menurut asal muasal kata, ini berasal dari bahasa Latin “despicere” yang berarti “memandang ke bawah”. Dari sini terlihat bahwa despised bukan hanya tentang emosi, tetapi juga tentang posisi moral atau psikologis—seolah-olah seseorang merasa lebih tinggi dari yang ia hina. Satu hal yang memiliki dimensi emosional sekaligus moral.

Dalam relasi sosial seseorang bisa menjadi “despised” karena perilaku yang dianggap melanggar nilai bersama, seperti ketidakjujuran, pengkhianatan, atau ketidakadilan. Namun, sikap merendahkan orang lain juga bisa mencerminkan arogansi dan kurangnya empati. Karena itu penting membedakan antara membenci perilaku buruk dengan menghina pribadi pelakunya. Karakter yang matang memang tidak menyukai tindakan yang salah namun tidak kehilangan rasa kemanusiaan dalam memperlakukan pelakunya.

Menjadi pribadi yang “despised” biasanya bukan terjadi tiba-tiba, tetapi karena:
tidak satunya antara kata dan perbuatan atau tindakan, penyalahgunaan kepercayaan, sikap yang selalu meremehkan orang lain. Sebaliknya, membiasakan diri untuk menghormati orang lain—bahkan saat tidak setuju—akan menjaga martabat pribadi.

Karena itu dalam situasi tertentu yang menimbulkan rasa tidak nyaman, kita perlu bertanya: Apakah kita sedang membenci kesalahan, atau sedang merendahkan manusia? Karena sejatinya
kematangan karakter bukan diukur dari seberapa keras kita mengecam, tetapi dari kemampuan menegakkan nilai tanpa kehilangan kasih dan penghargaan terhadap sesama.

Sebagaimana Coretta Scott King mengatakan:”Kebencian adalah beban yang terlalu berat untuk ditanggung. Itu melukai si pembenci lebih dari melukai yang dibenci.” –
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan