Saya Indonesia Saya Pancasila
Thamrin Dahlan YPTD
Selamat memperingati Hari Lahir Pancasila, 1 Juni. Makna Pancasila sebagai ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia bagi setiap warga negara tentu berbeda-beda. Hal itu sangat bergantung pada kapasitas, pengalaman, profesi, dan pengabdian masing-masing kepada bangsa dan negara. Antar Ria dengan Informasi, izinkan awak menyampaikan sedikit kisah nyata tentang bagaimana Pancasila hadir dalam perjalanan kehidupan seorang warga negara
Awal kisah itu terjadi tahun 1985. Ketika itu awak “terpaksa” menjadi pengajar Ilmu Pancasila dan Kewarganegaraan di Sekolah Perawatan (SPK) Polri Jakarta. Penyebabnya sederhana, belum ada teman bersedia mengampu pelajaran tersebut. Ternyata keterpaksaan itu menjadi pintu masuk untuk memahami Pancasila lebih mendalam.
Demi memenuhi syarat proses belajar mengajar dan akreditasi institusi pendidikan, awak menerima tugas itu ketika ditugaskan pula memberikan Kuliah Pancasila di Akademi Parawat Polri. Pancasila merupakan mata kuliah wajib yang harus diberikan kepada mahasiswa semester pertama.
Seiring perjalanan waktu, kesempatan mengajar semakin luas. Awak dipercaya memberikan kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jakarta, Universitas Gunadarma Depok, dan Perbanas Institute Jakarta. Dari ruang kuliah ke ruang kuliah, dari satu generasi mahasiswa ke generasi berikutnya, semakin terasa bahwa Pancasila bukan sekadar lima sila yang dihafalkan. Pancasila adalah pedoman hidup yang harus dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai anggota Polri yang kemudian menempuh berbagai penugasan hingga masa purnabakti, awak menyaksikan secara langsung betapa pentingnya nilai persatuan, gotong royong, keadilan, dan kemanusiaan. Nilai-nilai itulah yang menjadi perekat bangsa Indonesia yang sangat beragam. Perbedaan suku, agama, budaya, bahasa, dan adat istiadat tidak menjadi alasan untuk terpecah, melainkan menjadi kekayaan yang dipersatukan oleh Pancasila.
Setelah memasuki masa pensiun pada tahun 2010, awak memilih menekuni dunia literasi. Menulis menjadi sarana berbagi pengalaman dan pemikiran kepada masyarakat. Berbekal pengalaman mengajar bertahun-tahun, akhirnya pada tahun 2017 terbitlah buku berjudul “Saya Indonesia Saya Pancasila”.
Buku tersebut dimaksudkan sebagai buku ajar sekaligus buku pegangan bagi dosen dan mahasiswa dalam memahami nilai-nilai kebangsaan. Alhamdulillah, buku itu menjadi salah satu jejak pengabdian yang dapat diwariskan kepada generasi penerus. Sejatinya Buku adalah bukti kehadiran (Alibi) seorang manusia di muka bumi.
Ketika usia mencapai 70 tahun, Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) berakhir. Bersamaan dengan itu berakhir pula tugas formal sebagai dosen. Namun sesungguhnya proses belajar dan mengajar tidak pernah berhenti. Kini awak lebih banyak menulis dan menerbitkan buku melalui Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan. Sampai hari ini ratusan judul buku telah diterbitkan sebagai bagian dari ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa melalui gerakan literasi.
Alhamdulillah, di lingkungan Perusuh Disway awak juga memperoleh gelar kehormatan S3 yang diberikan langsung oleh Abah Dahlan Iskan, yaitu “Selalu Setia Selamanya”. Kampusnya tidak berdinding, tetapi sangat hidup: Disway, Dismorning, Gathering, dan Oleh-Oleh Ilmu Pengetahuan dan Pengalaman. Di sana kami belajar berbagi gagasan, pengalaman, dan persahabatan tanpa batas usia. Semoga semangat Pancasila terus hidup dalam hati setiap anak bangsa. Salam Literasi. Membaca, Memahami, Mengamalkan.
- Salamsalaman,
BHP, 1 Juni 2026 - Thamrin Dahlan
YPTD




