Ketenangan Jiwa

Peribahasa “air tenang menghanyutkan” mengajarkan kita untuk tidak menilai seseorang hanya dari tampilan luar. Air yang tampak tenang di permukaan sering kali menyimpan arus kuat di dalamnya.
Demikian pula manusia, ada pribadi yang tidak banyak bicara namun memiliki kedalaman ilmu, pengalaman, dan kebijaksanaan yang luar biasa. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap tenang justru sering menjadi tanda kekuatan batin yang matang.
3 Kunci Tetenangan Jiwa menurut Khalifah Syaidina Ali Bin Abi Thalib
- Ibadah Khusyu
- Lebih Banyak Dian
- Mejauhkan diri dari hal hal dirasa sia sia
Ketenangan bukanlah kelemahan, melainkan bentuk pengendalian diri. Dalam perspektif nilai-nilai agama, ketenangan hati adalah buah dari keimanan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an,
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram
(QS. Ar-Ra’d: 28).
Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan sejati bersumber dari kedekatan kepada Sang Pencipta, bukan dari hiruk pikuk dunia.
Peribahasa lain, “tenang-tenang air di laut, tiada berombak tanda bernasib,” menggambarkan kehidupan yang damai dan penuh keberkahan. Laut yang tenang melambangkan keadaan batin yang stabil, tidak mudah terguncang oleh cobaan.
Orang yang memiliki ketenangan seperti ini cenderung lebih bijak dalam mengambil keputusan, karena ia tidak dikuasai oleh emosi sesaat.
Selanjutnya, “diam-diam ubi berisi, diam-diam besi berkarat” memberikan dua sisi makna. Pada sisi positif, orang yang pendiam bisa saja memiliki isi yang bernilai seperti ubi yang berisi.
Namun di sisi lain, jika diam tanpa amal, ia bisa seperti besi yang berkarat—tidak bermanfaat. Oleh karena itu, ketenangan harus diiringi dengan tindakan nyata yang baik agar memberi manfaat bagi sesama.
Dalam hadis Rasulullah SAW disebutkan,
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan pentingnya menjaga lisan dan memilih diam sebagai bentuk kebijaksanaan. Diam yang terarah bukan berarti pasif, melainkan sikap selektif dalam berbicara dan bertindak.
Ketenangan juga erat kaitannya dengan akhlak mulia. Orang yang tenang cenderung sabar, tidak mudah terpancing amarah, serta mampu menjadi penyejuk di tengah konflik. Ia seperti air jernih yang menenangkan siapa saja yang melihatnya. Dalam kehidupan bermasyarakat, pribadi seperti ini sangat dibutuhkan untuk menjaga harmoni dan persatuan.
Akhirnya, peribahasa-peribahasa tentang ketenangan mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu tampak di permukaan. Justru dalam diam dan tenang tersimpan potensi besar yang mampu membawa perubahan.
Maka, marilah kita menumbuhkan ketenangan hati, memperbanyak zikir, menjaga lisan, dan mengisi diri dengan ilmu serta amal, agar menjadi “air tenang” yang tidak hanya menghanyutkan, tetapi juga menyejukkan kehidupan.
- Salam Takziem
- BHP 19 Juli 2026
- Thamrin Dahlan














