“Berhati-hatilah, Pak”

Terbaru606 Dilihat

Sudah berniat dari tadi malam kalau besok harus masuk sekolah. disudahi menjedanya. kemaren sore untuk memastikan kalau diri sudah mendingan sengaja pergi lagi ke dokter hanya untuk memastikan kalau diri sudah mulai fit dan siap untuk beraktifitas.

memang benar setelah makan malan dan minum syrup akhirnya rasa mengantuk yang telah beberapa hari menghilang tiba-tiba menyerang dengan sangat terasa. masih menunggu waktu sholat Isya sengaja berwudhuk lebih cepat supaya disaat adzan Isya diriku sudah siap untuk sholat. sholat diawal waktu lebih baik dari diakhir waktu, tidak banyak orang yang sadar akan hal itu.

Setelah shalat Isya dan menyelesaikan rutinitas yang biasanya dilakukan menjelang tidur, akhirnya masih ditemani siaran RRI akhirnya hingga menjelang subuh diriku tidak sadar dengan apa yang terjadi. Disaat bangun pagi diriku terasa lebih segar dan tentunya lebih semangat karena sesuai dengan niat semalam aku harus sekolah hari ini, menjalankan tugas sebagai pendidik dan membersamai para peserta didik yang tidak bertemu beberapa hari ini.

seperti biasa pukul 06.30 wib aku dan anak gadisku yang bernama Salsabila kami berangkat ke sekolah naik motor. khusus hari ini sebelum berangkat aku dan anak gadisku bercengkram pagi dan mengatakan “kita pelan-pelan saja, ya” kataku dan anak gadisku mengiyakannya. Memang lebih pelan dan hati-hati karena tenaga belum terlalu maksimal dan masih belum fit sepenuhnya. Biasanya kecepatanku juga tidak melebihi 30/40 km/jam. paling kencang itu 40km/jam itu kalau jalanan sepi.

Perjalanan ditemani dzikir dan dzikir dalam hati adalah rutinitas yang membuat tenang dan mengasyikkan. terkadang diseleingi dengan cerita dan candaan bersama anak gadisku. Memang indah dan membuat rasa bahagia hadir berkali lipat dari biasanya.

Aturan yang selalu dibicarakan adalah wajib mematuhi aturan lalu lintas, terutama disaat ada lampu merah. seperti biasa menjelang sampai di sekolah ada dua lampu merah yang kami lalui. seperti pagi ini kami juga kedapatan berhenti dilampu merah beberapa menit. Disaat lampu hijau telah menyala seperti biasa diriku melaju dengan tenang dan melihat ke kiri dan kekanan terlebih dahulu. sudah hampi sampai dijalan yang satu lagi tiba-tiba entah dari mana datangnya ada mobil melaju kencang. padahal sudah dipastikan mobil itu berhenti dilampu merah disebelah kanan.

“Allahu Akbar” aku dan anakku berteriak dengan suara lantang. Tiba-tiba motor kami tertabrak dan jatuh ke aspal. Alhamdulillah aku dan anakku masih sadar sehingga setelah mengecek keadaan anakku dan memastikan aman, akhirnya aku menemui bapak yang membawa mobil itu. Aku bilang ” pak, kenapa bapak masih melaju kencang, apakah bapak tidak memperhatikan lampu bapak merah?”. Maaf buk… maaf buk, saya tergesa-gesa karena mau mengajar” kata bapak itu. Sebenarnya ingin rasanya memarahi bapak itu sejadi-jadinya, meluapkan supaya bapak itu sadar kalau tindakannya sangat fatal. Tapi karena terlihat wajah bapak itu ketakutan dan penyesalan akhirnya diriku juga menahan rasa yang telah memuncak dikepalaku.

Orang-orang sudah ramai, sehingga banyak yang memarahi bapak itu. Bapak itu tidak henti-hentinya meminta maaf dengan wajah memelas dan wajah yang penuh penyesalan. Akhirnya dengan rasa iba kami memaafkan sembari berpesan, “berhati-hatilah, pak! karena tidak hanya bapak saja yang akan menyesal dengan tindakan bapak tetapi orang yang tidak salah apa-apa juga akan menanggung tindakan kecerobohan bapak.

Akhirnya dengan tenaga yang masih ada kami melanjutkan perjalanan lebi pelan-pelan lagi. karena dada yang masih bergemuruh dengan rasa terkejut masih ada terasa dalam hati.

kini yang terasa adalah kaki sebelah kanan dari bawah hingga pinggang terasa sakit dan setelah dilihat ternyata lebam-lebam di sekitar kaki hingga pinggang. Ada rasa mual yang terus terasa tapi hingga menulis cerita ini alhamdulillah tidak ada muntah. Semoga tidak terjadi apa-apa pada diri kami dan bapak itu juga aman-aman saja dalam perjalananannya.

Ternyata beliau juga seorang guru, beliau tergesa-gesa “karena mau mengajar dijam pertama “katanya.

itulah kisahku, tidak pernah terbesit dipikiranku akan terjadi kecelakaan ini. ini akan kami jadikan pengalaman sekaligus sebagai pelajaran, sehingga selalu berhati-hati dalam melakukan segala hal. Selalu belajar untuk menerima segala sesuatu yang telah diizinkan Allah terjadi, dan yang lebih penting adalah selalu belajar memberi maaf kepada orang yang melakukan kesalahan baik itu yang disengaja ataupun yang tidak mereka sengaja.

Tinggalkan Balasan