Kata bijak mengatakan tertawa itu sehat. Setiap orang pasti pernah tertawa. Tertawa itu ekspresi emosi positif—respon fisiologis terhadap humor atau kebahagiaan yang melepaskan endorfin (hormon bahagia). Selain itu juga berfungsi sebagai alat komunikasi sosial universal yang mempererat hubungan.
Tapi ada satu kondisi pada seseorang yang tidak pernah tertawa. Dinamakan agelast.Bukan orang ini tidak mau tertawa atau menahan tawanya, tapi karena dia tidak punya kemampuan menemukan humor atau kelucuan dalam segala hal di sekelilingnya. Sungguh satu kondisi yang menyedihkan.
Kata agelast berasal dari bahasa Yunani Kuno “agelastos” yang berarti “tidak tertawa”. Karena maknanya yang sangat spesifik, agelast sering dipakai oleh penulis atau pembicara yang ingin memberi efek dramatis atau deskriptif kuat pada karakter seseorang, untuk menggambarkan tokoh yang serius, tidak humoris, atau kaku.
Humor itu ibarat pelumas bagi interaksi sosial. Tanpanya, komunikasi terasa dingin, mudah salah paham, dan orang lain bisa merasa “berjarak”. Dalam tim atau keluarga, suasana cepat tegang.
Tanpa tawa empati dan kelekatan emosional melemah, katena tertawa bersama menandai keterhubungan. Sikap agelast sering dibaca sebagai kurang hangat atau kurang peka, meski niatnya bukan demikian. Akibatnya, kepercayaan dan rasa kebersamaan sulit tumbuh.
Dalam konteks kerja atau kepemimpinan, agelast kerap dipersepsikan sebagai otoriter atau tidak ramah. Padahal pemimpin efektif biasanya mampu menyeimbangkan ketegasan dengan kehangatan.
Namun perlu dipahami tidak semua orang yang serius adalah agelast. Masalahnya muncul ketika ketiadaan tawa menjadi identitas kaku yang menutup ruang empati, relasi, dan pemulihan emosi.
Tertawa itu memang kemampuan unik manusia. Tertawa membantu kita mengatasi masa-masa kelam kehidupan, entah melalui rasa sakit, penyakit, kesedihan, kesepian, kekecewaan, frustrasi, atau kemarahan. Karena itu Lord Byron mengatakan:”Tertawalah selalu jika Anda bisa. Itu adalah obat yang murah.” – Seorang yang optimistis tertawa untuk melupakan; seorang pesimistis lupa untuk tertawa.” demikian kata Tom Nansbury.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)



