Laotzu berujar “Mastering others is strength, mastering yourself is true power”-menguasai orang lain itu kekuatan, menguasai diri itu kekuatan sejati. Dalam konteks kepemimpinan atau manajemen kemampuan itu memang penting untuk memengaruhi, mengarahkan, atau bahkan mengendalikan orang lain itu memang penting.
Seorang pemimpin perlu memiliki otoritas, kemampuan komunikasi, dan strategi untuk menggerakkan tim. Namun, kekuatan jenis ini seringkali bersifat eksternal dan bergantung pada situasi: jabatan, kekuasaan, atau pengaruh sosial.Namun menguasai diri berarti mampu mengelola emosi, keinginan, ego, dan reaksi. Ini bukan hal yang mudah.
Ketika seseorang memasuki ranah penguasaan diri, inilah medan perjuangan yang paling sulit karena musuhnya tidak terlihat—ada dalam diri sendiri.
orang yang mampu mengendalikan amarah saat diprovokasi, tetap disiplin ketika tidak diawasi, atau konsisten pada nilai ketika tergoda, menunjukkan bentuk kekuatan yang jauh lebih dalam. Ini adalah kekuatan yang tidak bergantung pada orang lain, melainkan lahir dari kesadaran dan integritas diri.
Seorang profesional gizi, misalnya, bisa saja “menguasai orang lain” dengan memberikan edukasi, menyusun program diet, atau memengaruhi perilaku makan masyarakat. Namun, “kekuatan sejati” muncul ketika ia mampu: menjaga integritas ilmiah di tengah tekanan industri, mengendalikan bias pribadi dalam memberi rekomendasi, serta konsisten menjalani gaya hidup sehat yang ia anjurkan.
Tanpa penguasaan diri, otoritas profesional bisa menjadi kosong—sekadar formalitas tanpa keteladanan. Menguasai orang lain mungkin membuat seseorang terlihat kuat di mata dunia. Tetapi menguasai diri sendiri membuat diri kokoh, bahkan ketika dunia tidak berpihak. Di situlah letak “kekuatan sejati” sunyi, tanpa sepi tapi berdampak besar.
(Abraham Raubun. B Sc, S.Ikom)













