“Tak seorang pun dilahirkan sukses. Kesuksesannya diraih ketika orang lain tidur” Di balik kalimat ini terdapat makna yang dalam. Keberhasilan bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir, atau semata-mata ditentukan oleh bakat atau keturunan. Itu hasil proses panjang yang dijalani dengan disiplin, kerja keras, dan pengorbanan.
Setiap orang lahir dengan kemampuan berbeda, tetapi sejarah menunjukkan bahwa banyak tokoh besar justru berasal dari keterbatasan. Yang membedakan mereka bukan kondisi awal, melainkan kesediaan untuk terus belajar, berlatih, dan bertahan ketika orang lain berhenti.
Menyimak pengalaman tokoh-tokoh itu menarik. Contohnya seperti Kolonel Harland Sanders dari AS. pendiri Kentucky Fried Chiken (KFC), jaringan restoran cepat saji terbesar di dunia. Spesialisasinya ayam goreng. Tersebar di lebih dari 135 negara. Kolonel Sanders memulai waralaba KFC di usia 60-an tahun setelah pensiun, saat banyak orang memilih beristirahat. Ia ditolak ratusan kali saat menawarkan resep ayamnya sebelum akhirnya sukses.
Demikian pula dengan
Jack Ma ia mendirikan Alibaba. Dari seorang pengangguran menjadi salah satu orang terkaya di China. Prestasinya tidak menonjol, boleh dikatakan pas-pasan
Ia ditolak puluhan kali saat melamar pekerjaan, namun ia terus berjuang dan membangun usahanya di tengah keraguan banyak orang.
Bagian kata ” ketika orang lain tidur” secara harafiah bermakna lebih dalam bukan berbicara tentang begadang secara harfiah: orang sukses memanfaatkan waktu ketika kebanyakan orang lengah, nyaman, terlensa dalam zona nyaman atau bahkan menyerah. Mereka tetap bekerja saat orang lain bermalas-malasan. Mereka tetap belajar saat orang lain puas dengan keadaan. Mereka tetap berjuang ketika orang lain
memilih jalan pintas dan mudah.
Banyak orang ingin hasil cepat, ingin dikenal, ingin sukses instan, tetapi tidak bersedia menjalani proses sunyi yang melelahkan. Padahal keberhasilan sejati sering dibangun dalam “ruang sepi” yang tidak dilihat orang lain:
membaca ketika orang lain sibuk hiburan, berlatih ketika orang lain santai, memperbaiki diri ketika orang lain sibuk menyalahkan keadaan.
Meski demikian kutipan “Bekerja ketika orang lain tidur” bukan berarti mengorbankan kesehatan atau hidup tanpa keseimbangan. Inti pesannya adalah tentang etos, konsistensi, dan kesungguhan, bukan eksploitasi diri.
Keberhasilan tidak dibangun oleh kerja keras sesaat, tetapi oleh ketekunan yang berlangsung lama. Dengan demikian menjadi hebat ketika yang lain berhenti berjuang.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)


