Banyak yang mengatakan usia hanyalah angka. Namun ada anekdote berbunyi: “muda kaya raya, tua bahagia, mati masuk surga”. Suatu gambaran perjalanan hidup yang menyenangkan. Memang mungkin ada yang demikian ketika seseorang terlahir dalam keluarga serba ada, mendapat didikan baik, di hari tua bahagia dalam lingkungan “amancu”- anak, mantu, cucu, yang “care” terhadap orang tua dalam keluarga. Untuk masuk surga “who knows?” terpulang pada Iman dan kepercayaan masing-masing. Namun, kenyataannya tentu bisa berbeda.
Ada juga kutipan berbunyi “Age is honorable, youth is noble” Mulia di usia muda, terhormat di usia tua. Kutipan ini dapat dimaknai bahwa baik usia tua maupun usia muda memiliki nilai dan kemuliaannya masing-masing. Keduanya tidak perlu dipertentangkan, karena masing-masing membawa kekuatan yang berbeda dalam kehidupan.
Memupuk kejujuran di masa muda suatu sikap mulia. Kemuliaan masa muda bukan terletak pada usia itu sendiri, tetapi pada semangat untuk bertumbuh dan berkarya, karena masih penuh semangat,
idealisme, keberanian mencoba hal baru, penuh
energi untuk bergerak dan berubah. Kaum muda sering menjadi sumber inovasi dan pembaruan. Mereka berani bermimpi besar dan menantang keadaan yang dianggap tidak adil atau sudah usang.
Usia tua dihormati karena banyak membawa:pengalaman hidup, ketekunan, kesabaram,
kemampuan melihat persoalan secara lebih matang dan bijak.
Orang yang telah melewati banyak peristiwa hidup umumnya memahami bahwa keberhasilan tidak datang secara instan. Karena itu, usia sering dikaitkan dengan kehormatan dan kewibawaan.
Dalam banyak budaya Timur, termasuk Indonesia, orang tua dihormati bukan hanya karena umur biologisnya, tetapi karena pengalaman dan pengabdiannya kepada keluarga maupun masyarakat.
Hikmah yang dapat dipetik dari Kutipan ini mengajarkan keseimbangan: jangan pernah meremehkan orang tua karena dianggap lambat atau kuno,
jangan pula merendahkan anak muda karena dianggap belum berpengalaman.
Ketika kedua kelompok usia itu saling menghargai, semisal dalam profesi dan organisasi, akan lebih kuat. Namun tentu sebaliknya bila terjadi saling meremehkan, sering muncul konflik antar generasi.
Setiap orang akan melewati dua fase itu: menjadi muda hari ini bermartabat, menjadi tua esok hari dengan terhormat.
Namun, bukan hanya orang tua yang harus dihormati. Pepatah Jawa mengatakan:”Guru, Ratu Wong atuo karo wajib disembah” falsafah moral yang mengajarkan untuk menghormati dan memuliakan tiga sosok utama dalam kehidupan: guru, pemimpin, dan orang tua, agar hidup selamat di dunia dan akhirat.
(Abraham Raubun.B.Sc, S.Ikom)


