POLISI INDONESIA WAJIB MENELADANI JENDERAL POLISI (P) HOEGENG IMAN SANTOSO

Polri, Terbaru, YPTD30 Dilihat

POLISI INDONESIA WAJIB MENELADANI JENDERAL POLISI (PURN.) HOEGENG IMAN SANTOSO

Dalam sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia, nama Jenderal Polisi (Purn.) Hoegeng Iman Santoso selalu dikenang sebagai lambang kejujuran, keberanian, kesederhanaan, dan pengabdian tanpa pamrih. Menjabat sebagai Kapolri ke-5 pada periode 1968–1971, beliau membuktikan bahwa kekuasaan adalah amanah yang harus dijalankan dengan integritas, bukan untuk mencari keuntungan pribadi.

Ketegasan Hoegeng tampak ketika beliau memberantas penyelundupan dan perjudian tanpa pandang bulu. Berbagai ancaman, tekanan, bahkan godaan suap yang bernilai besar tidak pernah menggoyahkan prinsipnya. Beliau mengajarkan bahwa seorang Bhayangkara sejati berdiri tegak di atas hukum, bukan di bawah pengaruh kekuasaan ataupun uang.

Kesederhanaan hidupnya menjadi teladan yang sulit ditandingi. Hoegeng menolak berbagai fasilitas mewah yang tidak diperlukan dan bahkan meminta istrinya menutup usaha toko bunga agar tidak menimbulkan konflik kepentingan. Baginya, kepercayaan rakyat jauh lebih berharga daripada segala bentuk kemewahan. Tidak mengherankan apabila nama Hoegeng hingga kini menjadi simbol integritas dan kebanggaan Korps Bhayangkara.

Memperingati Hari Bhayangkara ke-80, semangat Jenderal Hoegeng patut terus dihidupkan oleh seluruh insan Polri. Polisi yang dicintai masyarakat adalah polisi yang jujur dalam setiap tindakan, berani menegakkan hukum, melayani dengan hati nurani, serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Menjadi anggota Polri bukan sekadar mengenakan seragam dan pangkat, melainkan mengemban amanah rakyat. Keteladanan Jenderal Hoegeng mengajarkan bahwa kehormatan seorang Bhayangkara lahir dari kejujuran, keberanian, disiplin, dan kesediaan mengabdi tanpa pamrih.

Di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks, masyarakat mendambakan polisi yang hadir sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan yang humanis.

Semoga setiap insan Bhayangkara menjadikan nilai-nilai Hoegeng sebagai kompas pengabdian: jujur dalam bertugas, berani menegakkan hukum, sederhana dalam kehidupan, adil dalam mengambil keputusan, serta tulus melayani masyarakat. Kepercayaan publik adalah kehormatan terbesar yang harus dijaga sepanjang hayat.

Ucapan Almarhum Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang menyebut Hoegeng sebagai salah satu polisi yang benar-benar jujur, sesungguhnya bukan sekadar humor. Di balik kalimat itu tersimpan pesan moral bahwa integritas adalah mahkota seorang anggota Polri. Warisan keteladanan itulah yang harus terus dihidupkan dari generasi ke generasi.

“Pangkat adalah amanah. Jabatan adalah pengabdian. Kejujuran adalah kehormatan yang akan dikenang sepanjang masa.”

Dirgahayu Bhayangkara ke-80.
Polri untuk Masyarakat, Bangsa, dan Negara.
Mari terus mengabdi dengan Presisi, menjaga kepercayaan rakyat, serta menjadikan keteladanan Jenderal Polisi (Purn.) Hoegeng Iman Santoso sebagai cahaya dalam setiap langkah pengabdian.

Salam Presisi. Salam Bhayangkara.
Semangat Literasi.
Kombes Pol. (Purn.) Thamrin Dahlan, M.Si
Pendiri Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD)
Salam Budaya – Literasi Mencerdaskan Bangsa

Tinggalkan Balasan