
Redundant 12:
Hidup Secara Rohani, Sebuah Analogi
Oleh Erry Yulia Siahaan
Bangun pagi, saya masih merenungi kata-kata Pdt. T Hutahaean dalam Bona Taon Parompuan semalam. (Baca: Redundant 11: Poda Na Lima). “Berubah dan berbuah”.
Untuk bisa berbuah, manusia harus berubah. Untuk bisa berubah, lalu berbuah, tentulah diperlukan rohani yang hidup. Rohani dalam Tuhan. Puji Tuhan, saya diingatkan pada ciri-ciri makhluk hidup secara jasmani. Selama suatu makhluk itu masih hidup, selama itu pula dia akan mengalami perubahan alias tidak statis berdasarkan ciri-cirinya itu. Dari sana, saya kemudian beranalogi untuk lebih mampu mengeksposisi atau menjelaskan bagaimana atau seperti apa rohani yang hidup itu.
Ada sembilan ciri-ciri makhluk hidup yaitu bernapas, bergerak, membutuhkan nutrisi, tumbuh dan berkembang, peka terhadap rangsangan, bereproduksi, beradaptasi, mengeluarkan zat sisa, dan mengalami metabolisme. Kesembilan ciri itu memperlihatkan betapa manusia sebenarnya adalah makhluk yang tidak statis, tetapi pasti mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Demikian halnya dengan kondisi rohani yang hidup. Rohani yang hidup adalah rohani yang mampu membawa perubahan menuju yang lebih baik dan lebih baik dari waktu ke waktu.
Dalam iman Kristen, syarat untuk bisa berubah hanya dua, tegas Hutahaean, yaitu hidup di dalam Tuhan Yesus dan tidak menjadi sama dengan dunia. Hidup di dalam Kristus memungkinkan kita untuk terus diperbarui, untuk tetap melekat pada “ranting” dan semakin “berbuah”.
Dalam analogi saya, sebagaimana halnya jasmani yang hidup, rohani yang hidup juga akan “bernapas, bergerak, membutuhkan nutrisi, tumbuh dan berkembang, peka terhadap rangsangan, bereproduksi, dan beradaptasi”. Begini penjelasannya:
- “Bernapas”
Secara jasmani, bernapas adalah ciri paling penting sekaligus syarat bagi sesuatu yang hidup. Saat bernapas, makhluk hidup mengambil oksigen dari lingkungannya dan mengeluarkan karbondioksida serta uap air ke lingkungannya. Cara bernapas bisa dengan berbagai cara, tergantung jenis makhluk hidup itu sendiri. Manusia bernapas dengan paru-paru melalui hidung. Hewan ada yang bernapas dengan paru-paru, insang, trakea, kulit, dan sebagainya. Tumbuhan bernapas dengan stomata, lentisel, atau akar rambut yang digunakan untuk menyerap oksigen.
Secara rohani, “bernapas” adalah menyerap hal-hal yang baik, mau membaca dan mendengarkan Firman Tuhan, bertumbuh bersama Tuhan dan dalam Tuhan. Pengalaman dan cara tiap-tiap orang untuk “bernapas” berbeda-beda. Misalnya, tentang kapan dan berapa banyak atau seberapa sering seseorang membaca Firman, nats mana yang dibacanya hari ini, bagaimana dia bersaksi dalam lingkungannya, dan lain-lain.
- “Bergerak”
Makhluk hidup dapat bergerak. Bukan sebatas berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan juga memiliki struktur tubuh yang berfungsi mendukung untuk melakukan gerakan, seperti tulang, otot, dan sendi pada manusia dan hewan. Untuk tumbuhan, gerakannya disebut gerak taksis, yaitu bergerak mengikuti atau menjauhi sumber arah rangsangan dari luar, misalnya sinar matahari.
Dalam rohani, “bergerak” berarti tidak diam di tempat, atau tidak “tanpa berbuat apa-apa”, melainkan tetap melakukan sesuatu yang positif. Rohani yang hidup tidak pernah mengatakan “tidak bisa” padahal belum apa-apa, belum mencoba. Dalam kesederhanaan sekalipun, bisa muncul hal-hal luar biasa, jauh melampaui apa yang bisa dicerna oleh manusia. Renungan dalam ibadah pagi itu (yang mengacu pada Kisah Para Rasul 5:12-14) mengingatkan, di tangan Tuhan, orang yang sederhanapun dapat menjadi alat-Nya yang luar biasa. Tuhan mampu memakai orang yang sederhana itu untuk mengerjakan hal-hal besar, bahkan melampaui kesanggupannya. Nats mengatakan, iman harus dinyatakan dengan perbuatan. Rohani yang hidup adalah rohani yang aktif dan dinamis.
- “Membutuhkan Nutrisi”
Makhluk hidup membutuhkan asupan nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangannya, baik dari makanan maupun minuman. Asupan diperlukan sebagai sumber energi untuk menunjang aktivitas dan untuk mencukupi nutrisi yang menunjang kehidupan, misalnya protein untuk membantu pembentukan sel-sel baru sebagai pengganti sel-sel yang rusak. Air berguna untuk menjaga keseimbangan tubuh.
Rohani yang hidup membutuhkan Firman Tuhan sebagai nutrisi untuk pertumbuhan, perkembangan, dan keberlanjutan pertumbuhannya. Firman Tuhan merupakan pijakan kokoh bagi pembentukan “benih-benih baru” dalam pertumbuhan iman, pengharapan, dan kasih. Kata “keberlanjutan” menjadi penting, karena (seperti halnya makhluk hidup membutuhkan makanan dan minuman setiap hari) rohani yang hidup pun idealnya selalu mendapatkan asupan Firman Tuhan.
- “Tumbuh dan Berkembang”
Secara jasmani, makhluk hidup mengalami perubahan yang disebut pertumbuhan dan perkembangan. Kata pertumbuhan lebih merujuk pada aspek ukuran dan kuantitas, sedangkan perkembangan pada aspek kualitas (kematangan atau pendewasaan). Manusia, hewan, dan tumbuhan bertumbuh dan berkembang. Dari yang tadinya bayi, anak hewan, atau biji/tunas menjadi dewasa dan mature, karena mendapatkan makanan dan minuman yang dibutuhkan.
Rohani yang hidup adalah rohani yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan menuju kuantitas dan kualitas yang lebih baik, baik dalam iman, pengharapan, maupun penerapan kasih. Firman Tuhan merupakan nutrisi yang dibutuhkan sebagai prasyarat untuk bisa bertumbuh dan berkembang secara rohani, sehingga pada waktunya kita akan “berbuah” dan “buah” kita semakin banyak.
- “Peka terhadap Rangsangan”
Makhluk hidup berbeda dari benda mati dari kemampuannya menerima tanggapan atau rangsangan yang disebut iritabilitas. Bentuk kemampuan memberikan tanggapan ini bisa beragam, tergantung jenis makhluk hidupnya dan jenis rangsangannya. Pada manusia dan hewan, tanggapan ini bisa berupa bergerak atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain, misalnya jika sedang berjalan tapi kemudian menemukan tembok atau kebuntuan, maka manusia dan hewan akan menghindar dan mencari jalan lain, bukannya membenturkan diri ke tembok. Bunglon dikenal sebagai hewan mimikri, atau hewan yang dapat mengganti warna tubuhnya, sebagai mekanisme perlindungan diri dari predator. Cicak melakukan autotomi, atau melepaskan salah satu bagian tubuhnya (dalam hal ini ekornya) untuk melindungi diri atau ketika merasa terancam. Putri malu akan melakukan gerak yang disebut seismonasti/tigmonasti dengan menguncupkan daunnya jika disentuh. Malah, ada yang ekstrem responnya terhadap rangsangan, misalnya dengan cara mematahkan tulang tubuhnya untuk melindungi diri dari predator (contohnya pada katak berbulu dan kadal hijau), meledakkan tubuhnya untuk mengeluarkan racun (seperti pada semut Malaysia dan rayap dari Guyana, Prancis), menyemprotkan cairan dari anus (misalnya pada kumbang), menyemprotkan darah (kadal bertanduk Texas), dan menyemprotkan bau busuk (misalnya pada fulmar).
Manusia dengan rohani yang hidup akan peka terhadap setiap kondisi di sekelilingnya, untuk kemudian sigap dan mampu mengeluarkan tanggapan atau respon yang diperlukan. Jika stimulannya berupa godaan iblis, respon rohani yang hidup adalah agar “selamat” dari aksi “predator” tersebut dalam berbagai bentuknya, entah dari mana/siapa/apa saja. Jika rangsangannya adalah kondisi yang membutuhkan uluran tangan, respon rohani yang hidup adalah memberikan bantuan untuk meringankan beban. Firman Tuhan menjadi pedoman sekaligus senjata untuk memimpin kita melakukan mana yang Tuhan sukai.
- “Bereproduksi”
Makhluk hidup berkemampuan untuk berkembang biak, menghasilkan keturunan. Ada yang melahirkan anak, bertelur, beranak dan bertelur, berbiji/bertunas, dan sebagainya.
Rohani yang hidup memungkinkan seseorang menjadi teladan bagi orang lain, untuk menyatakan keagungan-Nya, menjadi alat Tuhan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang terbelenggu dosa. Bentuk keteladanan dan kesaksian ini beragam antarorang. Tapi, semua ada dalam satu bingkai yang sama yaitu Firman Tuhan.
- “Beradaptasi”
Adaptasi adalah kemampuan makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kemampuan ini diperlukan agar makhluk hidup bisa dan lebih mudah dalam tetap hidup. Ada yang melakukannya secara fisiologis, ada yang secara morfologis dan dalam bentuk adaptasi tingkah laku. Adaptasi fisiologis dilakukan melalui fungsi kerja organ tubuh, adaptasi morfologis dilakukan dengan menyesuaikan atau mengubah bentuk organ/struktur tubuh terhadap lingkungannya, sedangkan adaptasi tingkah laku dilakukan dengan cara atau perilaku makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dan bertahan hidup.
Rohani yang hidup akan memampukan seseorang beradaptasi dengan lingkungannya, bisa hidup berbaur, tetapi tetap mengingat bahwa dia tidak perlu menjadi sama dengan dunia ini. Bahkan, di tengah pergaulan yang sarat godaan dan dosa, seseorang bisa tetap menjaga integritasnya sebagai saksi Tuhan.
- “Mengeluarkan Zat Sisa”
Makhluk hidup mampu mengeluarkan zat buangan atau sisa-sisa dari dalam tubuh. Pada manusia dan hewan, zat buangan itu dikeluarkan dalam bentuk keringat, feses, dan urine. Pada tumbuhan, zat sisa tersebut berupa CO2 ketika proses respirasi dan O2 ketika proses fotosintesis.
Rohani yang hidup akan mampu mengadakan refleksi diri, menyadari dan mengakui kekurangan diri, meninggalkan yang kurang/tidak baik, selalu memulai yang baru setiap hari.
- “Mengalami Metabolisme”
Makhluk hidup mengalami proses yang disebut metabolisme, yaitu proses biokimia dalam tubuh yang diperlukan agar makhluk hidup bisa bertahan hidup. Tanpa metabolisme, makhluk hidup tidak dapat mengonversi bahan makanan menjadi energi, serta mengeliminasi zat-zat sisa yang bersifat racun dari dalam tubuhnya.
Rohani yang hidup memungkinkan terjadinya proses pembaruan terus-menerus dalam pribadi manusia, di mana terjadi konversi dari benih-benih dari Firman Tuhan yang didengar, dibaca, direnungkan, untuk menjadi sesuatu yang dibutuhkan untuk “energi bagi aktivitas rohani” dan memampukan seseorang untuk meninggalkan hal-hal yang beracun atau tidak membangun bagi kehidupan dan pertumbuhan rohani.***


