LEBIH BAIK TAMPARAN SEORANG KAWAN DARIPADA CIUMAN SEORANG LAWAN

Terbaru2 Dilihat

Teguran sering kali melukai perasaan. Karena pada dasarnya manusia tak suka dengan teguran.Ketidaksukaan terhadap teguran itu hal yang sangat manusiawi. Bukan semata karena orang “keras kepala”, tetapi karena teguran menyentuh banyak lapisan dalam diri—emosi, harga diri, bahkan pengalaman masa lalu
ditegur karena suatu tindakan menyimpang dari tatakrama pergaulan.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang sering lebih menyukai kata-kata manis daripada kritik. Memang pujian itu membuat seseorang nyaman. Teguran seringkali melukai ego atau perasaan. Karena itu ada kutipan dalam bahasa asing:”A blow from your friend is better than a kiss from your enemy” Tamparan atau pukulan seorang teman jauh lebih baik daripada ciuman seorang lawan.

Kutipan ini sejatinya mengajak membalik cara pandang menghayati makna bahwa tidak semua yang menyenangkan itu baik, dan tidak semua yang menyakitkan itu buruk. Karena itu “Tamparan atau pukulan dari seorang teman” dapat dimaknai sebagai kritik, teguran, atau nasihat yang jujur. Seorang teman sejati tidak selalu mengatakan apa yang ingin kita dengar, tetapi apa yang perlu kita dengar. Ia berani menegur ketika kita salah, karena ia peduli demi kebaikan kita. Rasa “sakit” dari teguran itu justru menjadi tanda adanya kasih dan tanggung jawab dalam relasi persahabatan.

Bagaimana dengan “ciuman dari musuh”? Ini melambangkan pujian palsu, rayuan, atau sikap manis yang menyembunyikan niat yang tidak tulus. Dalam banyak situasi, seseorang bisa tampak mendukung, tetapi sebenarnya tidak menginginkan kebaikan kita. Sikap seperti ini justru berbahaya, karena meninabobokan dan membuat kita tidak sadar akan kelemahan atau kesalahan diri.

Pertumbuhan pribadi itu bukan lahir dari pujian kosong, tetapi dari keberanian menghadapi kebenaran, meski pahit nyelekit di hati. Itulah makna kejujuran yang lebih berharga daripada kenyamanan.Tidak semua yang terlihat “baik” benar-benar baik. Ketulusan sering hadir dalam bentuk yang tidak selalu menyenangkan.Karena kualitas relasi ditentukan oleh ketulusan, bukan dalam wujud keramahan semu. Di situlah kematangan diri diuji lewat cara menerima kritik ataupun teguran.

Terkadang, yang paling di butuhkan bukanlah kenyamanan, melainkan kebenaran yang membentuk jati diri. Karenanya patut untuk
menghargai teman yang berani jujur sehingga dapat belajar membedakan ketulusan dan kepalsuan. Lebih dari itu
yang terpenting, menjadi pribadi yang juga berani menyampaikan kebenaran dengan lugas namun tetap dengan penuh welas asih.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan