MARWAH GIZI YANG TERLUPAKAN

Terbaru3 Dilihat

Belakangan ini isu gizi menjadi topik yang populer. Program nasional, diskusi publik, hingga berbagai media sering menyoroti persoalan pemberian makanan bergizi kepada anak sekolah. Terlepas dari tanggapan positif atau negatif nama Gizi mencuat kepermukaan menjadi buah bibir publik.

Namun di tengah maraknya perhatian tersebut, ada satu hal yang terasa mulai memudar, yaitu “marwah” atau martabat ilmu gizi itu sendiri. Banyak orang memandang gizi secara sangat sempit—seolah-olah gizi hanya soal menyusun menu makanan atau menentukan apa yang harus dimakan. Padahal hakikatnya, ilmu gizi jauh lebih luas dan kompleks.

Gizi itu bukan sekadar Menu Makanan. Memang benar bahwa makanan adalah media utama dalam ilmu gizi. Namun gizi tidak berhenti pada menu semata. Di dalamnya terdapat proses ilmiah yang meliputi:
bagaimana zat gizi dicerna dan diserap tubuh,
bagaimana zat tersebut mempengaruhi metabolisme dan kesehatan,
bagaimana lingkungan, budaya, ekonomi, dan perilaku mempengaruhi pola makan,
hingga bagaimana kebijakan publik dapat memperbaiki status gizi masyarakat.
Dengan kata lain, gizi adalah ilmu yang menjembatani makanan, kesehatan, perilaku, dan pembangunan manusia.

Sejatinya Ilmu Gizi bersifat multidisiplin. Ia memiliki marwah. Marwah ilmu gizi sebenarnya terletak pada sifatnya yang multidisiplin itu. Di dalamnya bertemu berbagai bidang ilmu, antara lain:
Biologi dan biokimia, untuk memahami metabolisme zat gizi, ilmu jedokteran dan kesehatan masyarakat, untuk melihat dampaknya terhadap penyakit, sosiologi dan antropologi, serta untuk memahami budaya makan,
Ekonomi dan kebijakan publik. Juga untuk menjamin akses pangan, pendidikan dan komunikasi, untuk mengubah perilaku makan.

Karena itu, gizi bukan sekadar urusan dapur, tetapi juga urusan pembangunan manusia. Jika Marwah Gizi menyempit maknanya
mulai terasa hilang ketika:
gizi hanya dipersepsikan sebagai resep menu atau dapur sehat, peran tenaga gizi dianggap sebatas penyusun menu, kebijakan gizi lebih menekankan logistik makanan daripada perubahan perilaku dan sistem pangan.

Jika pandangan ini terus berkembang, maka gizi akan kehilangan kedalaman ilmiahnya dan berisiko menjadi sekadar praktik teknis, bukan disiplin ilmu strategis.

Mengembalikan marwah gizi tentu harus segera diupayakan.
Mengembalikan marwah gizi berarti mengembalikan pemahaman bahwa gizi adalah fondasi kualitas sumber daya manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan:
Memperkuat perspektif ilmiah bahwa gizi berkaitan dengan metabolisme, kesehatan, dan siklus kehidupan. Mendorong pendekatan lintas sektor, karena masalah gizi berkaitan dengan pangan, pendidikan, ekonomi, dan budaya. Juga
memperkuat peran profesi gizi sebagai analis, masalah kesehatan masyarakat, bukan sekadar pengatur menu.
Mengedukasi masyarakat bahwa gizi adalah investasi jangka panjang bagi kualitas manusia.

Gizi sebagai Pilar Pembangunan Manusia
dengan marwah ilmu gizi terletak pada kontribusinya terhadap pembangunan manusia sejak awal kehidupan—bahkan sejak masa konsepsi hingga usia lanjut. Gizi bukan sekadar mengenyangkan perut, tetapi membangun kecerdasan, produktivitas, dan kualitas hidup manusia.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang gizi, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang masa depan manusia dan peradaban.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)
S. Ikom)

Tinggalkan Balasan